Selasa, 11 Desember 2018

Antropologi Budaya


TRADISI PERNIKAHAN MASYRAKAT DI DESA UPANG MARGA 



Disusun Oleh   : Ria Erlinda (1730403067)
Kelas   :17 PUS B
Dosen pembimbing : Wahyu Andrapani, M.hum


            PRODI ILMU PERPUSTAKAAN 
 FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA 
        UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
   TAHUN AJARAN 2017
KATA PENGANTAR

Allahmdulillah puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT karena atas limpahan rahmat, hidayah dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “TRADISI PERNIKAHAN DI DESA UPANG MARGA”
Makalah ini saya susun dalam guna memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Oleh Dosen bapak Wahyu Andripani, M.Hum. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada beliau Atas bimbingan dan saran Sehingga terwujudnya makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini berupa kesalahan dalam penulisan kata, nama, gelar dan dll. Untuk itu saya  mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Akhirnya saya ucapkan terima kasih banyak pula atas segala dukungan dan bantuan sehingga makalah ini dapat tersusun dan terselesaikan dengan insyaallah baik.




  Palembang, 25 November 2017
           Hormat Saya 

   Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I  PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 5
1.2 Rumusan Masalah 6
1.3 Tujuan 7
1.4 Manfaat Penelitian 7
1.5 Metode Penelitian 7
1.6 Kajian Teori 8
BAB II GAMBARAN UMUM
       2.1 Di Desa Upang Marga 10
       2.2 Tradisi Pernikahan 10
2.2.1 Tujuan pernikahan sakinah 11
2.2.2 Tujuan pernikahan mawadah warohma 12
BAB III PEMBAHASAN DAN ISI 
3.1 Pengertian Kebudayaan 13
 3.1.1 Wujud Kebudayaan 13
 3.1.2  Unsur-unsur Kebudayaan 14
      3.2 Sejarah Dan Fungsi Tradisi 15
             3.2.1. Sejarah Lahir Tradisi 15
3.2.2 Fungsi Tradisi 16
      3.3. Tradisi Kebudayaan Acara Pernikahan Di Desa Upang Marga 17
             3.3.1  Gotong-royong 17
             3.3.2 Acara Masak-masak Saat Pernikahan 18
             3.3.3 Ngarak Pengantin 18
             3.3.4 pengantin Laki-laki yang Sudah Sah Tinggal Di Rumah Pengantin     Wanita 19
      3.4 Upaya Mempertahankan Tradisi Keutuhan Budaya Daerah 20

BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan 22
4.2 Saran 22

UCAPAN TERIMA KASIH 23
DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN 25






BAB I 
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tradisi adalah segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini atau sekarang. Tradisi dapat pula diartikan lembaga baru didandani dengan daya pikat kekunoan yang menentang zaman tetapi menjadi ciptaan mengagumkan.  Pengertian Tradisi dalam Arti Sempit adalah warisan-warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja yaitu yang tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih kuat ikatannya dengan kehidupan masa kini. Contoh tradisi: Candi, Puing kuno, Kereta Kencana, sejumlah benda-benda peninggalan lainnya, jelas termasuk ke dalam pengertian tradisi. 
Berbagai macam tradisi yang ada di kalangan masyarakat ,termasuk didalamnya yaitu tradisi perikahan, khitanan, kematian dan masing banyak lagi. Tradisi juga menjadi ciri khas suatu daerah dan masuk dalam ruang lingkup kebudayaan.  Kebudayaan mempunyai kandungan bentuk dari seluruh pengertian nilai sosial, etika sosial, ilmu dan pengetahuan dan keseluruhnya bebrapa susunan sosial, religius, dan sebagainya, dan juga semua pernyataan intelektual serta artistik sebagai ciri khas satu orang-orang. Termasuk pula pengertian Kebudayaan adalah seluruh dari yang kompleks didalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, tradisi adat istiadat, serta beberapa kemampuan lain yang didapat seorang sebagai anggota orang-orang.
Pernikahan merupakan salah satu bagian dari tradisi. Pernikahan merupakan salah satu jalan atau suratan hidup yang dialami oleh hampir semua manusia dimuka bumi ini walaupun ada beberapa diantaranya yang tidak terikat dengan perkawinan sampai ajal menjemput. Semua agama resmi di Indonesia memandang perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, harus dihormati, dan harus dijaga kelanggengannya. Oleh karena itu, setiap orang tua merasa tugasnya sebagai orang tua telah selesai bila anaknya telah memasuki jenjang perkawinan. 
Pernikahan adalah bagian dari kebudayaan, Adat istiadat dalam acara pernikahan sebagai perwujudan mempertahankan kedayaan yang ada di daerah tersebut. Pernikahan juga menjadi elemen penting dalam kebudayaan, kebudayaan mempunyai kandungan bentuk dari seluruh pengertian nilai sosial, etika sosial, ilmu dan pengetahuan dan keseluruhnya bebrapa susunan sosial, religius, dan sebagainya, dan juga semua pernyataan intelektual serta artistik sebagai ciri khas satu orang-orang.
Namun ironisnya, ketika zaman sudah canggih seperti sekarang masyarakat sedikit banyaknya sudah mulai beranjak dari tradisi yang mereka anggap merepotkan dan banyak memakan dana. Sekarang mereka lebih suka untuk mempraktiskan semuanya. Hal inilah yang membuat penulis ingin menggangkat tema ini, dengan tujuan agar kecintaan dan kebanggaan terhadap tradisi adat istiadat daerah mulai muncul lagi kepermukaan. Serta membangkitkan semangat untuk melestarikan tradisi daerah masing.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu kebudayaan?
2. Bagaimana sejarah tradisi yang ada di desa upang marga?
3. Apa sajakah unsur tradisi yang terjadi saat ada acara pernikahan didesa tersebut?
4. Bagaimana upaya untuk mempertahankan tradisi warga di Daerah upang marga tersebut?

1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui lebih jauh tradisi yang ada di daerah pada daerah saya sendiri.
2. Dapat memahami arti kebersamaan dan kekompakkan warga sekitar karna  mereka saling membantu.
3. Dapat mengetahui cara mempertahankan kebudayaan daerah sendiri 
4. Dan ikut andil dalam pelestarian kebudayaan daerah kelahiran sendiri.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Dapat Memperkenalkan Tradisi kebudayaan daerah sendiri pada daerah luar.
2. Mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan sendiri
3. Dapat berkontribusi pada pelestarian kebudayaan daerah asal.
4. Dan dapat mengetahui apa saja yang yang dilakukan saat adat pernikahan berlangsung.

1.5 Metode Penelitian 
Dalam makalah ini, saya melakukan metode secara analisis. Hasil penelitiannya menjelaskan tentang akar permasalahan mengapa judul ini yang dijadikan bahan permasalahan dan lalu dikembangkan. Salah satu masalahnya ialah banyaknya orang yang menikah bukan diderah sendiri lagi karena mereka semua sudah mulai enggan untuk melakukan tradisi yang menurut nya terlalu ribet dan merepotkan. Mereka lebih memilih untuk mengadakan acara diluar daerah sendiri karena menurut mereka lebih praktis. Sehingga hal itu dapat menggeserkan budaya dan bahkan dapat membuat kebudayaan itu hilang. Maka dari itu generasi muda seharusnya juga ikut mempelajari dan mempertahankan kebudayaan tersebut.


1.6 Kajian Teori
Pada kondisi kekinian sekarang, banyak kemajuan zaman dan teknologi yang membuat para masyarakat terkadang lupa siapa sebenarnya dan lupa apa kebudayaannya. Dan hal ini juga berdanpak pada menurunnya rasa kecintaan pada budaya lokal pada masyarakatnya. Khususnya kalangan remaja yang cenderung ikut-ikutan perubahan zaman dari mulai pakaian, pergaulan. Mereka semua rentan terhadap nilai, moral, etika, dan agama. Selain itu menurun nya budaya yang ditunjukkan oleh para remaja juga ikut menjadi permasalahan kehidupan sekarang ini, khususnya pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa. 
Permasalahan kebudayaan ini antara lain disebabkan terjadinya penafsiran budaya yang keliru. Ini artinya terjadi paham antar generasi. Padahal sebagai sistem gagasan yang terdiri  dari nilai-nilai, norma dan aturan. Kebudayaan harus dilihat dalam tiga aspek, yaitu proses pembelajaran, konteks, dan pelaku pendukung kebudayaan. Tiga aspek ini menentukan seberapa besar dan kuat peran kebudayaan dalam membangunan kehidupan yang baik.
Budaya juga merupakan bahaya bagi manusia sendiri. Budaya yang dimaksud umpama tektik, peradaban, pabrik berasap, udara yang penuh debu, kota yang kotor, hutan yang makin gundul, kediktatoran akal dan budi yang tamak.  Bangkit dari ungkapan tersebut tentunya manusia adalah makhluk yang berakal mereka mempunyai perasaan yang tentunya dapat  memilah milih apa yang baik dan yang tidak baik.
Keterkaitan pada hal diatas maka kaitannya adalah kebudayaan atau tradisi yang hampir tergeser oleh zaman sehingga diperlukannya jiwa-jiwa muda yang berjuang mempertahankan aset dari daerah tersebut dengan menjaga dan melestarikanya. Kalo bukan dari generasi muda yang ingin merubah menjadi lebih baik tanpa mengurangi ataupun menghilangkan adat tradisi tersebut. 
Mempertahan kan tradisi gotong royong dalam persiaapan acara pernikahan, masak makanan bersama warga sekitar, acara ngarak penganten dengan berjalan kaki, dan lain-lain. Tradisi diatas tentunya harus dipertahankan, Karena semakin kesini orang sudah mulai malas unuk memakai tradisi tersebut. kebanyakan dari mereka malah memilih untuk menikah dan mualai memakai cara-cara orang dikota yang cenderung praktis dan cepat. Namun negarifnya masyarakat semakin jauh dari adatnya.

















BAB II 
GAMBARAN UMUM

2.1 Di Desa Upang Marga
Desa upang marga adalah sebuah desa kecil yang berada di daerah perairan, alamat lengkapnya yaitu di desa upang marga kecamatan air saleh kabupaten banyuasin. Tidak tahu pasti kapan desa ini lahir, namun yang jelas desa  ini sudah ada dari saat masa penjajahan dahulu hingga sekarang, meskipun terbilang desa ini kecil namun sudah banyak melakukan perbaikan dan pembangunan desa dari mulai infra stuktur hingga sumber daya manusia-nya. Memiliki kepala keluarga yang cukup banyak dan tentunya tradisi nya juga banyak, dari mulai adat-istiadat, kebudayaan hingga larangannya.
Desa tercinta ini masih belum banyak yang tau, bahkan ketika mendengar nama desa ini saja sering kali orang ingin tertawa. Meskipun begitu telah banyak generasi muda, anak asli dari desa ini membuktikan bahwa ia mampu berkarya baik di desa-nya sendiri mapun di diluar desa-nya.
2.2 Tradisi Pernikahan 
Tradisi lahir disaat tertentu ketika orang menetapkan fragmen tertentu dari warisan masa lalu sebagai tradisi. Tradisi berubah ketika orang memberikan perhatian khusus pada fragmen tradisi tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain. Tradisi dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu dan tradisi ini dapat hilang bila benda material dibuang dan gagasan ditolak atau dilupakan. 
Pernikahan adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak, dengan dasar sukarela dan keridhaan kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhai oleh Allah. 
merupakan akad (ijab kabul) antara wali dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya. Dalam Pengertian Pernikahan secara umum adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup berketurunan, yang dilangsungkan menurut ketentuan syariat islam. Dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam kompilasi hukum islam no. 1 tahun 1991 mengartikan perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqa ghaliidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. menurut istilah Hukum islam sama dengan kata “nikah” dan kata “zawaj“. Nikah menurut bahasa adalah menghimpit, menindih atau berkumpul. Nikah mempunyai arti kiasan yakni “wathaa” yang berarti “setubuh” atau “akad” yang berarti mengadakan perjanjian pernikahan. Dalam kehidupan sehari-hari nikah dalam arti kiasan lebih banyak, sedangkan dipakai dalam arti sebenarnya jarang sekali dipakai saat ini.
  
2.2.1 Tujuan Pernikahan Sakinah (tenang)
Salah satu dari tujuan pernikahan atau perkawinan adalah untuk memperoleh keluarga yang sakinah. Sakinah artinya tenang, dalam hal ini seseorang yang melangsungkan pernikahan berkeinginan memiliki keluarga yang tenang dan tentram. Karena pernikahan adalah sarana efektif untuk menjaga kesucian hati agar terhindar dari perzinahan.
2.2.2 Tujuan Pernikahan Mawadah dan Rahmah
Tujuan pernikahan yang selanjutnya adalah untuk memperoleh keluarga yang mawadah dan rahmah. Tujuan pernikahan Mawadah yaitu untuk memiliki keluarga yang di dalamnya terdapat rasa cinta, berkaitan dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah. Tujuan pernikahan Rahmah yaitu untuk memperoleh keluarga yang di dalamnya terdapat rasa kasih sayang, yakni yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat kerohanian. 










BAB III
PEMBAHASAN 

Hasil Pembahasan
3.1 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari perkataan latin: “Colere”yang artinya mengelolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktifitas manusia untuk mengelolah dan mengubah alam”. Dapat diartikan juga bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang berarti budi dan daya. Karena itu mereka membedakan antara kebudayaan dengan budaya. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Dan kebudayaan adalah hasil cipta, karsa, dan rasa tersebut.
Ada juga yang mengatakan kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada diatas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat misalnya musik, puisi, etik, agama, ilmu filsafat dan lain-lain. Kebudayaan adalah kenyataan yang dilahirkan manusia dengan perbuatan. Kebudayaan tidak saja asalnya, tapi juga kelanjutan nya bergantung pada jiwanya. 
3.1.1 Wujud Kebudayaan 
Wujud pertama adalah wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan dipoto, letaknya dalam alam pikiran manusia. Sekarang kebudayaan ideal ini banyak tersimpan dalam arsip kartu computer, dan sebagainya. Ide-ide dan gagasan manusia ini banyak yang hidup dalam masyarakat dan member jiwa kepada masyarakat. Gagasan itu tidak terlepas satu sama lain melainkan saling berkaitan menjadi suatu sistem, disebut sistem buda atau cultural sistem yang dalam bahasa Indonesia disebut adat istiadat. 
Wujud kedua adalah yang disebut sistem sosial. Yaitu mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri, sistem sosial ini terdiri aktifitas-aktifitas manusia yang berinteraksi satu dengan yang lainnya dari waktu ke waktu, yang selalu menurut pola tertentu, sistem sosial ini bersifat konkrit sehingga bisa diobservasi, dipoto, dan didokumentir.
Wujud ketiga adalah yang disebut kebudayaab fisik, yaitu seluruh hasil fisik karya manusia dalam masyarakat.kebudayaan ideal dan adat-istiadat mengatur dan mengarahkan tindakan manusia baik gagasan, tindakan dan karya manusia, menhasilkan benda-benda berbentuk fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang makin menjauhkan manusia dari linkungan alamnya sehingga bisa mempengaruhi pola berpikir dan berbuatnya.  
3.1.2 Unsur-Unsur Kebudayaan 
  Unsur kebudayaan yang bersifat universal ialah:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari, misalnya: pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata, dan sebagainya. 
2. sistem mata pencaharian dan sisitem ekonomi, Misalnya:pertanian, peternakan dan sistem produksi.
3. Sistem kemasyarakatan, misalnya: kekerabatan, sistem perkawinan, dan sistem pernikahan.
4. Bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis.
5. Ilmu pengetahuan
6. Kesenian, misalnya seni suara, rupa ataupun gerak 
7. Religi. 
3.2 Sejarah dan Fungsi Tradisi Lahir 
3.2.1 Sejarah Lahir Tradisi
Tradisi lahir disaat tertentu ketika orang menetapkan fragmen tertentu dari warisan masa lalu sebagai tradisi. Tradisi berubah ketika orang memberikan perhatian khusus pada fragmen tradisi tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain. Tradisi dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu dan tradisi ini dapat hilang bila benda material dibuang dan gagasan ditolak atau dilupakan. Sejarah Tradisi lahir yaitu melalui dua cara. 
Cara pertama, tradisi muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tidak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak. Karena sesuatu alasan, individu tertentu menemukan warisan historis yang menarik. Perhatian, ketakziman, kecintaan dan kekaguman  yang kemudian disebarkan melalui berbagai cara, memengaruhi rakyat banyak. Sikap takzim dan kagum itu berubah menjadi perilaku dalam bentuk upacara, penelitian dan pemugaran peninggalan purbakala serta menafsir ulang keyakinan lama. Semua perbuatan itu memperkokoh sikap. Kekaguman dan tindakan individu menjadi milik bersama dan berubah menjadi fakta sosial sesungguhnya. Begitulah tradisi dilahirkan. Proses kelahiran tradisi sangat mirip dengan penyebaran temuan baru, hanya saja dalam kasus tradisi ini lebih berarti penemuan atau penemuan kembali yang telah ada di masa lalu ketimbang penciptaan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Cara kedua, tradisi muncul dari atas melalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang dianggap sebagai tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan oleh individu yang berpengaruh atau berkuasa. Dua jalan kelahiran tradisi itu tidak membedakan kadarnya. Perbedaannya terdapat antara tradisi asli yaitu tradisi yang sudah ada di masa lalu dan tradisi buatan yaitu murni khayalan atau pemikiran masa lalu. Tradisi buatan mungkin lahir ketika orang memahami impian masa lalu dan mampu menularkan impiannya itu kepada orang banyak. Lebih sering tradisi buatan ini dipaksakan dari atas oleh penguasa untuk mencapai tujuan politik mereka. 

3.2.2 Fungsi Tradisi 
1. Tradisi berfungsi sebagai penyedia fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi yang seperti onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Contoh: peran yang harus diteladani (misalnya, tradisi kepahlawanan, kepemimpinan karismatis, orang suci atau nabi).
2. Fungsi tradisi yaitu untuk memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan yang sudah ada. Semuanya ini memerlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Contoh: wewenang seorang raja yang disahkan oleh tradisi dari seluruh dinasti terdahulu.
3. Tradisi berfungsi menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas dan kelompok. Contoh Tradisi nasional: Dengan Lagu, Bendera, Emblem, Mitologi Dan Ritual Umum.
4. Fungsi Tradisi ialah untuk membantu menyediakan tempat pelarian dari keluhan, ketidakpuasan dan kekecewaan kehidupan modern. Tradisi yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan sumber pengganti kebanggalan bila masyarakat berada dalam kritis. Tradisi kedaulatan dan kemerdekaan di masa lalu membantu suatu bangsa untuk bertahan hidup ketika berada dalam penjajahan. Tradisi kehilangan kemerdekaan, cepat atau lambat akan merusak sistem tirani atau kediktatoran yang tidak berkurang di masa kini.
3.3 Tradisi Kebudayaan Didesa Upang Marga
Pelestarian kebudayaan pastinya berkaitan dengan unsur yang ada didalamnya. Tiap elemen unsur pasti saling membutuhkan untuk bisa jadi satu kesatuan yang disebut tradisi. Nah oleh sebab itu, dalam bagian berikut akan disampaikan penjabaran dari masing-masing unsur tersebut yaitu:
3.3.1 Gotong Royong
 Gotong royong dapat diartikan sebagai sesuatu sikap ataupun kegiatan yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara kerjasama dan tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan maupun masalah dengan sukarela tanpa adanya imbalan. Sikap gotong royong ini telah melekat pada diri masyarakat pedesaan dan merupakan kebiasaan turun temurun dari nenek moyang. Walaupun tidak berarti kita harus meampertahankan faktor pendorong adanya gotong royong tersebut. 
 Gotong royong akan tetap hidup dikalangan masyarakat, tetapi berbeda latar belakangnya, bentuk dan sifat dari gotong royong itu sendiri perbedaan ini biasanya ditimbulkan oleh lingkungan masing-masing. Sementara itu orang-orang desa mulai menyadari dengan lebih mendalam akan perlunya kesempatan dan tata cara berpikir baru, perencanaan terhadap kerjasama atau gotong royong untuk memecahkan berbagai macam problema. 
Namun saat ini tradisi gotong royong tersebut sudah mulai hilang karena sudah banyak nya anak muda yang merantau ke kota dan enggan untuk melakukan tradisi tersebut alasannya capek dan malas. Gotong-royong itu perlu dilakukan karena memupuk rasa kekompakkan dari masyarakat. Padahal dahulu didesa ini sangatlah kental tradisi dalam bergotong-royong antar sesama, apalagi ketika akan diadakannya pesta pernikahan siapapun warganya pasti akan saling bahu membahu dari mulai pengumpulan bahan untuk membuat panggung yaitu kayu, papan dan lainnya. Mereka saling membantu saat mengambil atau mengumpulkan bahan karena kayu yang akan dikumpulkan itu berasal dari hutan.
3.3.2 Acara Masak-Masak Saat Tradisi Pernikahan
Di Daerah ini sudah menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat sekitar untuk tolong-menolong dalam hal memasak pada saat akan diadakan pesta pernikahan penduduk tersebut. Sebenaranya mereka juga saling tolong-menolong bukan hanya pada saat ada acara pernikahan saja tetapi pada acara seperti: syukuran, pemotongan rambut bayi, khitanan, dan lain-lain.
Tradisi masak-masak saat acara pernikahan akan dilaksanakan tiga hari menjelang hari H, namun sebenarnya ada juga yang memulai tradisi masak tersebut lebih cepat dikarenakan mungkin bahan yang akan dimasak itu lebih banyak dan ada acara tambahan. Namun yang jelas tradisi masak memasak ini sangatlah banyak membawa manfaat, selain memasak yang banyak itu bisa selesai lebih cepat. Manfaat lainnya ialah para ibu-ibu dan gadis remaja dapat berkumpul saling bercengkrama, menyapa, dan bekerja sama dalam hal memasak. Kebuyaan yang telah menjadi tradisi, kebersamaan akan tetap terjaga dengan cara ini. 
3.3.3  Ngarak Pengantin
Rangkaian adat nikahan masyarakat di desa upang marga ini dimulai dengan sebutan akad nikah, yang oleh masyarakat akad nikah dilangsungkan di rumah mempelai pria. Calon mempelai wanita hanya boleh diwakilkan ayah atau wali pria yang lain. Begitu penghulu menasbihkan sah, resmilah si pria menikahi wanita pujaannya.
Pakaian yang dipakai pada tradisi daerah upang sama dengan pakaian adat  Palembang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan "baju gede" atau "baju penganggon". Baju adat didominasi oleh warna merah dengan benang emas, warna merah ke-emasan ini berasal dari tenunan kain songket berunsur gemerlap dan keemasan sesuai dengan citra kerajaan Sriwijaya pada zaman dahulu . 
Karna didaerah upang ini telah menjadi tradisi ketika ngarak atau mengantar  pengantin pria ke tampat mempelai wanita itu dengan bejalan kaki, mereka semua beramai-ramai mengantar mempelai laki-laki tersebut kerumah mempelai perempuan dengan membawa barang-barang hantaran seperti: kue dodol dan wajik, kasur, perlengkapan rumah tangga, pakaian, perlengkapan untuk sang mempelai wanita, dan masih banyak lagi. Barang-barang itu semua diangkut oleh masyarakat yang ikut ngarak pengantin tersebut dari mulai anak-anak, remaja, dan orang dewasa, baik itu perempuan maupun lelaki dengan membawa bendera kain sarung atau kemben. 
3.3.4 Tradisi Mempelai Laki-Laki yang Menetap Dirumah Mempelai   Perempuan
Berkaca dari adat daerah lain itu bahwa kebanyakan mempelai wanita yang sudah menjadi istri sah sang suami maka ia harus ikut dangan suaminya. Maka berbeda halnya dengan adat desa upang marga ini dari dulu hingga sekarang setiap ada yang menikah pasti setelah itu sang mempelai pria yang akan ikut tinggal dirumah keluarga sang mempelai wanita, dengan catatan memang mereka pengantin baru dan belum membuat rumahnya sendiri. 
Tapi kebanyakan meskipun mereka membuat rumah pasti rumah mereka pasti di daerah terdekat dengan orang tua mempelai wanita. Itu adalah tradisi yang masih bertahan sampai sekarang.
3.4. Upaya Mempertahankan Tradisi Budaya Daerah
Peranan budaya lokal mempunyai peranan yang penting dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa namun kenyataannya sekarang semua itu hanya sebatas teori saja, di prakteknya sudah jarang terlihat peranan budaya lokal tersebut. Sebagian besar akibat pengaruh dari budaya asing dan arus modernisasi,globalisasi. Sehingga dari akibat tersebut dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan budaya di Indonesia, antara lain: Adanya perbedaan karakter kepribadian budaya barat dengan budaya indonesia yang dapat merusak budaya di Indonesia
Terkikisnya budaya Indonesia karena terpengaruh budaya asing sehingga budaya Indonesia mulai terlupakan. Bangsa Indonesia kehilangan cirri atau citra bangsa dimata dunia karena pengaruh budaya asing.

ciri atau citra bangsa di mata dunia karena adanya pengaruh budaya asing.
1. secara umum masih dihadapi permasalahan dalam domain pengeloalan kebudayaan.
a) Rendahnya apresiasi dan kecintaan terhadap budaya lokal, dan sejarah Lokal
b) Semakin pudarnya nilai-nilai solidaritas sosial, keramahtamahan sosial dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, serta semakin menguatnya nilai-nilaimaterialis
c) belum memadainya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya termasuk pelestarian nilai-nilai sejarah pada tingkat lokal.

Dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal yang ada dalam masyarakat, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh seorang anggota masyarakat khususnya kita sebagai generasi muda dalam mendukung kelestarian budaya dan ikut menjaga budaya lokal diantaranya adalah:

1. Mau mempelajari budaya tersebut, baik hanya sekedar mengenal atau bisa juga dengan ikut mempraktikkannya dalam kehidupan kita.
2. Ikut berpartisipasi apabila ada kegiatan dalam rangka pelestarian kebudayaan,misalnya: 
a. Mengikuti kompetisi tentang kebudayaan, misalnya tari tradisi atau teater daerah. 
b. Ikut berpartisipasi dengan mementaskan budaya tradisonal pada acara ataupun kegiatan tertentu, seperti pada saat perayaan hari ulang tahun kemerdekaan bangsa, mengadakan pementasan ketoprak yang berbau perjuangan, dan lain-lain. 
3. Mengajarkan kebudayaan itu pada generasi penerus sehingga kebudayaan itu tidak musnah dan tetap dapat bertahan. 
4. Mencintai budaya sendiri tanpa merendahkan dan melecehkan budaya orang lain. 
5. Mempraktikkan penggunaan budaya itu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya budaya berbahasa. 
6. Menghilangkan perasaan gengsi ataupun malu dengan kebudayaan yang kita miliki.
7. Menghindari sikap primordialisme dan etnosentrisme 

               BAB IV
          PENUTUP

4.1 Simpulan
Tradisi dan adat istiadat yang ada didesa upang marga ini haruslah di dipertahankan, agar tidak tergeser oleh perubahan zaman. Alasan lain mengapa tradisi harus dilestarikan adalah agar anak cucu kita nanti bisa melihat dan merasakan tradisi dari nenek moyang. Sebagai anak muda generasi penerus juga sangat berperan dalam pertahanan cagar budaya tersebut. Memang terkadang antara desa satu dan desa yang lain itu memiliki persamaan tapi tentunya pasti akan sedikit berbeda. 
Desa upang marga yang terletak pada kecamatan air saleh di kabupaten banyuasin ini sangatlah kecil, tapi tradisi yang ada di dalam desa itu yang masih di jalankan, meski sebagian dilupakan. Nah maka dari itu manusia khususnya masyarakat dari desa tersebut harus bekerja sama itu mambangun kembali tradisi adat pernikahan seperti dahulu kala. Masyarakat juga harus bisa bahu-membahu membangun kerja sama yang baik untuk pelestarian budaya dan tradisi tersebut.

4.2 Saran
Dalam hal ini sebagian besar generasi muda yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lebih memilih untuk keluar desa dan pergi ke kota merantau untuk bekerja. Nah hal itu juga yang menjadi alasan mengapa didaerah tidak punya semangat jiwa muda untuk berjuang mempertahankan tradisi seperti yang   yang dari dulu telah ada. Peran perangkat desa juga berperan dalam hal ini, mereka harusnya membuat wadah tempat utuk menyalurkan semua. Sehingga apa yang kita inginkan juga akan terlaksana sesuai rencana. Dan kebudayaan akan tetap ada sampai nanti, sehingga anak dan cucu kita nanti bisa menjalani tradisi didesa upang marga yang tercinta ini.


Ucapan Terima Kasih


Puji syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. Yang memiliki keistimewaan dan pemberian segala kenikmatan besar, baik nikmat iman, kesehatan dan kekuatan dalam penyusunan makalah ini. Sholawat bertangkaikan salam tak henti-hentinya tercurah pada sayyidina Muhammad Saw. Keluarga dan para sahabatnya serta penegak sunnah-nya sampai kelak akhir zaman. 
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Untuk ayahanda A.Rohim dan Ibunda tercinta Rusmini, karna dengan kasih sayang, cinta, dan dorongan beliau-lah penulis bisa melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu hingga saat ini di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang yang tercinta ini. 
2. ketua adat, perangkat desa dan masyarakat Desa Upang Marga Kecamatan Air Saleh, Kabupaten Banyuasin. Yang telah memberi saya ruang untuk membahas tentang tradisi didesa tercinta ini walaupun tidak bisa meneliti ke lapangan secara langsung.
3. Pada dosen antropologi kelas 17 pus B bapak Wahyu Adripani, M.Hum. penulis mewakili teman sekelas berterima kasih sebanyk-banyaknya pada beliau kalau bukan karena beliau tentunya kami belum begitu mengenal lebih jauh tentang ilmu antropologi,dan kalau bukan dorongan untuk memuat makalah dari beliau ini mungkin pembuatan makalah kami juga belum sejauh ini, Terima kasih banyak pak untuk ilmunya yang telah bapak berikan.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah dapat bermanfaat nantinya untuk semua yang membaca. AMINN!!!

DAFTAR PUSTAKA

Abu, Ahmadi. 1986. Antropologi Budaya. Surabaya:CV. Pelangi

Shomad, ABD. 2010. Hukum Islam (Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia). Jakarta:Penerbit Kencana Prenada Media Group.
Koentjaraningrat. 1974. pengantar antropologi. Djakarta:PT. Penerbit universitas Djakarta

M.P, Suyadi.1984. Materi pokok ilmu budaya dasar. Jakarta:Depdikbud

Sulaiman, M. Munandar. 1987. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT. Ereco

Suprihadi, M. Sastrosupono. 1987. ilmu budaya dasar. Salatiga:UKSW 

Prasetya, Joko Tri. 2013. Ilmu Budaya Dasar . Jakarta:Rinika Cipta

 Widagho, djoko. 2017. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta:Bumi Angkasa

http://dianekoshare.blogspot.co.id/2012/05/download-pakaian-adat-palembang- sangat.html (diakses pada 22 November 2017 pukul 21:00 wib)

http://hanydina.blogspot.co.id/2013/02/cara-menjaga-budaya-lokal.html   (diakses pada 22 november 2017 pukul 23:00 wib)

http://www.informasiahli.com/2015/09/pengertian-tradisi-sejarah-fungsi-dan- penyebab-perubahannya.html (diakses 19 November 2017 pukul 20:30 wib)
http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-tujuan-pernikahan- perkawinan.html (diakses pada 26 november 2017 pukul 07:00 wib)
LAMPIRAN

1. Gambar masyarakat yang bersiap untuk bergotong royong (sumber: Dokumen pribadi)

2. Gambar tradisi memasak bersama saat ada pesta penikahan (sumber: http://home.myplaycity.com/results.php?s=acara%20masak%20memasak%20potonya&category=images)
         
      
3. Poto masyarakat yang ikut ngarak penganten (sumber: Dokumen pribadi)



4. Poto mempelai laki-laki yang ketika setelah menikah lalu tinggal di ruma orang tua mempelai perempuan (sumber: Dokumen pribadi)



Kamis, 18 Oktober 2018

Keselamatan kerja di pembahasan ergonomi

BAB 2 : Desain Stasiun Kerja
Salah satu definisi ergonomi yang menitik beratkan pada penyesuaian desain terhadap manusi adalah dikemukakan oleh Annis & McConville (1996) dan Manuaba (1999). Mereka menyatakan bahwa ergonomi adalah kemampuan untuk menerapkan informasi menurut karakter manusia, kapasitas dan keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan kerja dan lingkungan sehingga manusia dapat hidup dan bekerja secara sehat, aman, nyaman dan efisien. Sedangkan Pulat (1992) menawarkan konsep desain produk untuk mendukung efisiensi dan keselamatan dalam penggunaan desain produk. Konsep tersebut adalah desain untuk reliabilitas, kenyamanan, lamanya waktu pemakaian, kemudahan dalam pemakaian, dan efisien dalam pemakaian. Selanjutnya agar setiap desain produk dapat memenuhi keinginan pemakainya maka harus dilakukan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut:
1. Mengetahui kebutuhan pemakai. Kebutuhan pemakai dapat didefinisikan berdasarkan kebutuhan dan orientasi pasar, wawancara langsung dengan pemakai produk yang potensial dan menggunakan pengalaman pribadi.
2. Fungsi produk secara detail. Fungsi spesifik produk yang dapat memuaskan pemakai harus dijelaskan secara detail melalui daftar item masing-masing fungsi produk.
3. Melakukan analisis pada tugas-tugas desain produk.
4. Mengembangkan produk.
5. Melakukan uji terhadap pemakai produk.
Menurut Das and Sengupta (1993) pendekatan secara sistemik untuk menentukan dimensi stasiun kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:.
1. Mengidentifikasi variabilitas populasi pemakai yang didasarkan pada etnik, jenis kelamin dan umur.
2. Mendapatkan data antropometri yang relevan dengan populasi pemakai.
3. Dalam pengukuran antropometri perlu mempertimbangkan pakaian, sepatu dan posisi normal.
4. Menentukan kisaran ketinggian dari pekerjaan utama. Penyediaan kursi dan meja kerja yang dapat distel, sehingga operator dimungkinkan bekerja dengan sikap duduk maupun berdiri secara bergantian.
5. Tata letak dari alat-alat tangan, kontrol harus dalam kisaran jangkauan optimum.
6. Menempatkan displai yang tepat sehingga operator dapat melihat objek dengan pandangan yang tepat dan nyaman.
7. Review terhadap desain stasiun kerja secara berkala.
Pertimbangan Antropometri Dalam Desain
Setiap desain produk, baik produk yang sederhana maupun produk yang sangat komplek, harus berpedoman kepada antropometri pemakainya. Menurut Sanders & McCormick (1987); Pheasant (1988) dan Pulat (1992) bahwa antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai orang. Selanjutnya Annis & McConville (1996) membagi aplikasi ergonomi dalam kaitannya dengan antropometri menjadi dua
devisi utama yaitu:
Pertama, ergonomi berhadapan dengan tenaga kerja, mesin beserta sarana pendukung lainnya dan lingkungan kerja. Tujuan ergonomi dari devisi ini adalah untuk menciptakan kemungkinan situasi terbaik pada pekerjaan sehingga kesehatan fisik dan mental tenaga kerja dapat terus dipelihara serta efisiensi produktivitas dan kualitas produk dapat dihasilkan dengan optimal.
Kedua, ergonomi berhadapan dengan karakteristik produk pabrik yang berhubungan dengan konsumen atau pemakai produk.

Desain Stasiun Kerja dan Sikap Kerja Duduk
Posisi tubuh dalam kerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Masing masing posisi kerja mempunyai pengaruh yang berbedabeda terhadap tubuh.Grandjean (1993) berpendapat bahwa bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan antara lain; pembebanan pada kaki; pemakaian energi dan keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi. Namun demikian kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan tulang belakang akan melengkung sehingga cepat lelah. Sedangkan Clark (1996), menyatakan bahwa desain stasiun kerja dengan posisi duduk mempunyai derajat stabilitas tubuh yang tinggi; mengurangi kelelahan dan keluhan subjektif bila bekerja lebih dari 2 jam. Di samping itu tenaga kerja juga dapat mengendalikan kaki untuk melakukan gerakan. Contoh desain stasiun kerja untuk sikap kerja duduk dapat diilustrasikan seperi gambar 2.4 Mengingat posisi duduk mempunyai keuntungan maupun kerugian, maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk pada tubuh, perlu dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja yang sesuai dilakukan dengan posisi duduk. Untuk maksud tersebut, Pulat (1992) memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk adalah sebagai berikut:
1) pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki;
2) pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan;
3) tidak diperlukan tenaga dorong yang besar;
4) objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian lebih
dari 15 cm dari landasan kerja;
5) diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi;
6) pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama; dan
7) seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan
posisi duduk.




Desain Stasiun Kerja dan Sikap Kerja Berdiri
Selain posisi kerja duduk, posisi berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Menurut Sutalaksana (2000), bahwa sikap berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Namun demikian mengubah posisi duduk ke berdiri dengan masih menggunakan alat kerja yang sama akan melelahkan. Pada dasarnya berdiri itu sendiri lebih melelahkan daripada duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10 -15% dibandingkan dengan duduk.
Pada desain stasiun kerja berdiri, apabila tenaga kerja harus bekerja untuk periode yang lama, maka faktor kelelahan menjadi utama. Untuk meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subjektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau melakukan gerakan dengan posisi kepala yang tidak alamiah. Untuk maksud tersebut Pulat (1992) dan Clark (1996) memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri adalah sebagai berikut:
1) tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut;
2) harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg);
3) sering menjangkau ke atas, ke bawah, dan ke samping;
4) sering dilakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah; dan
5) di perlukan mobilitas tinggi.
Dalam mendesain ketinggian landasan kerja untuk posisi berdiri, secara prinsip hampir sama dengan desain ketinggian landasan kerja posisi duduk. Manuaba (1986);Sanders & McCormick (1987);  Grandjean (1993) memberikan rekomendasi ergonomis tentang ketinggian landasan kerja posisi berdiri didasarkan pada ketinggian siku berdiri sebagai tersebut berikut ini.
1) Untuk pekerjaan memerlukan ketelitian dengan maksud untuk mengurangi pembebanan statis pada otot bagian belakang, tinggi landasan kerja adalah 5- 10 cm di atas tinggi siku berdiri.
2) Selama kerja manual, di mana pekerja sering memerlukan ruangan untuk peralatan; material dan kontainer dengan berbagai jenis, tinggi landasan kerja adalah 10-15 cm di bawah tinggi siku berdiri.
3) Untuk pekerjaan yang memerlukan penekanan dengan kuat, tinggi landasan kerja adalah 15-40 cm di bawah tinggi siku berdiri. Ketinggian landasan kerja untuk sikap kerja berdiri.



Desain stasiun kerja sangat ditentukan oleh jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan. Baik desain stasiun kerja untuk posisi duduk maupun berdiri ke duanya mempunyai keuntungan dan kerugian. Clark (1996) memcoba mengambil keuntungan dari ke dua posisi tersebut dan mengkombinasikan desain stasiun kerja untuk posisi duduk dan berdiri menjadi satu desain dengan batasan sebagai berikut:
1) pekerjaan dilakukan dengan duduk pada suatu saat dan pada saat lainnya dilakukan dengan berdiri saling bergantian;
2) perlu menjangkau sesuatu lebih dari 40 cm ke depan dan atau 15 cm di atas landasan kerja; dan
3) tinggi landasan kerja dengan kisaran antara 90-120 cm, merupakan ketinggian yang paling tepat baik untuk posisi duduk maupun berdiri. Stasiun kerja untuk sikap kerja dinamis (duduk di suatu saat dan berdiri di saat lainnya) dapat diilustrasikan seperti gambar




Bab 5 :Organisasi Kerja dan Kebutuhan
Gizi Kerja
Organisasi kerja terutama menyangkut waktu kerja; waktu istirahat; sistem kerja harian/borongan; masuk kerja dan insentif dapat berpengaruh terhadap produktivitas, baik langsung maupun tidak langsung. Manuaba (1990) menjelaskan bahwa jam kerja berlebihan, jam kerja lembur di luar batas kemampuan akan dapat mempercepat munculnya kelelahan, menurunkan ketepatan, kecepatan dan ketelitian kerja. Oleh karena setiap fungsi tubuh memerlukan keseimbangan yang ritmis antara asupan energi dan penggantian energi (kerja-istirahat), maka diperlukan adanya waktu istirahat pendek dengan sedikit kudapan (15 menit setelah 1,5 – 2 jam kerja) untuk mempertahankan performansi dan efisiensi kerja.

5.1 Fisiologi Tubuh saat Bekerja dan Istirahat
Pada dasarnya aktivitas kerja merupakan pengerahan tenaga dan pemanfaatan organ-organ tubuh melalui koordinasi dan perintah oleh syaraf pusat. Besar kecilnya pengerahan tenaga oleh tubuh sangat tergantung dari jenis pekerjaan (fisik atau mental). Secara umum jenis pekerjaan yang bersifat fisik memerlukan pengerahan tenaga yang lebih besar dibandingkan jenis pekerjaan yang bersifat mental. Namun demikian, secara kualitatif baik kerja fisik maupun mental fungsi fisiologis tubuh adalah tetap sama yaitu dengan bekerja maka aktivitas persyarafan bertambah, otot-otot menegang, meningkatnya peredaran darah ke organ-organ tubuh yang bekerja, nafas menjadi lebih dalam, denyut jantung dan tekanan darahmeningkat. Sedangkan secara kuantitatif, antara kerja fisik dan mental adalah berbeda dan sangat dipengaruhi oleh beban pekerjaan. Pada kerja fisik maka peranan pengerahan tenaga otot lebih menonjol dan untuk kerja mental peranan kerja otak yang lebih dominan.

5.2 Pengaturan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengaturan waktu kerja-waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising, berdebu dll. Namun demikian secara umum, di Indonesia telah ditetapkan lamanya waktu kerja sehari maksimum adalah 8 jam kerja dan selebihnya adalah waktu istirahat (untuk kehidupan keluarga dan sosial kemasyarakatan). Memperpanjang waktu kerja lebih dari itu hanya akan menurunkan efisiensi kerja, meningkatkan kelelahan, kecelakandan penyakit akibat kerja. Tetapi dalam pelaksanaannya, banyak perusahaan yang mempekerjakan karyawannya di luar jam kerja (kerja lembur) dengan berbagai alasan di sisi lain para karyawan juga merasa senang melakukan kerja lembur, karena akan mendapatkan penghasilan tambahan di luar penghasilan pokok. Dalam hal lamanya waktu kerja melebihi ketentuan yang telah ditetapkan (8 jam per hari atau 40 jam seminggu), maka perlu diatur waktu-waktu istirahat khusus agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani tetap dapat dipertahankan dalam batas-batas toleransi. Pemberian waktu istirahat tersebut secara umum dimaksudkan untuk:
Mencegah terjadinya kelelahan yang berakibat kepada penurunan kemampuan fisik dan mental serta kehilangan efisiensi kerja
Memberi kesempatan tubuh untuk melakukan pemulihan atau penyegaran
Memberi kesempatan waktu untuk melakukan kontak sosial Kaitanya dengan masalah waktu istirahat, berdasarkan pengalaman dan pengamatan di lapangan, ternyata terdapat empat jenis istirahat yang dilakukan oleh para pekerja selama jam kerja berlangsung, yaitu istirahat secara spontan, istirahat curian, istirahat oleh karena ada hubungannya dengan proses kerja dan istirahat yang merupakan ketetapan resmi.

1. Istirahat spontan adalah istirahat pendek segera setelah pembebanan kerja. Sebagai contoh: pekerja mengangkat dan mengangkut beras secara manual seberat 50 kg dengan jarak 15 meter. Setelah meletakkan beras tersebut secara otomatis pekerja akan beristirahat pendek untuk mengembalikan hutang oksigen yang telah digunakan pada waktu mengangkat dan mengangkut tadi.
2. Istirahat curian adalah istirahat yang terjadi jika beban kerja tak dapat diimbangi oleh kemampuan kerja. Istirahat demikian terjadi apabila beban pekerjaan baik fisik maupun mental lebih besar dari kemampuan kerjanya, sehingga menimbulkan reaksi tubuh untuk mengatasi kelebihan Beban tersebut.



5.3 Hari Kerja
Jumlah jam kerja yang efisien untuk seminggu adalah antara 40 - 48 jam yang terbagi dalam 5 atau 6 hari kerja. Maksimum waktu kerja tambahan yang masih efisien adalah 30 menit. Sedangkan di antara waktu kerja harus disediakan waktu istirahat yang jumlahnya antara 15-30% dari seluruh waktu kerja. Apabila jam kerja melebihi dari ketentuan tersebut akan ditemukan hal-hal seperti; penurunan kecepatan kerja, gangguan kesehatan, angka absensi karena sakit meningkat, yang kesemuanya akan bermuara kepada rendahnya tingkat produktivitas kerja. Di Indonesia telah dikenal dengan sistem 6 hari kerja dan 5 hari kerja seminggu. Penerapan sistem kerja dengan 5 hari kerja sebetulnya sudah lama dikenalkan di Indonesia, teruma di kantor pemerintahan dan BUMN. Sedangkan untuk lingkungan perusahaan masih sedikit yang menerapkannya. Sistem 5 hari kerja tersebut sebetulnya hanya mengadop sistem barat. Salah satu pertimbangannya adalah agar karyawan mempunyai waktu libur yang cukup sehingga kualitas hidup meningkat. Ternyata sistem kerja tersebut cukup efektif diterapkan di negara negara maju karena sistem pengupahannya sangat baik. Demikian juga, penerapan sistem 5 hari kerja di lingkungan pemerintah termasuk BUMN tidak menimbulkan gejolak. Hal tersebut disebabkan karena sistem penggajian tetap dan hanya mengubah jam kerja. Sebaliknya penerapan sistem 5 hari kerja sering menjadi masalah apabila diterapkan di perusahaan di Indonesia. Penyebabnya tidak lain adalah standar pengupahan sangat rendah yang menyebabkan kebutuan dasar keluarga tidak tercukupi.

5.4 Kebutuhan Gizi Kerja
Gizi kerja adalah pemberian gizi yang diterapkan kepada masyarakat pekerja dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari pemenuhan gizi kerja adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan ketahanan tubuh serta menyeimbangkan kebutuhan gizi dan kalori terhadap tuntutan tugas pekerja.

5.4.1 Zat gizi dan sumber makanan
Manusia memerlukan zat gizi yang bersumber dari makanan. Bahan makanan yang diperlukan tubuh mengandung unsur utama seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Fungsi dari zat-zat gizi tersebut adalah sebagai sumber tenaga atau kalori (karbohidrat, lemak dan protein), membangun dan memelihara jaringan tubuh (protein, air dan mineral) dan mengatur proses tubuh (vitamin dan mineral). Secara khusus, gizi kerja adalah zat makanan yang bersumber dari bahan makanan yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan lingkungan kerjanya (Tjipta, 1990). Selanjutnya hal-hal yang perlu diketahui dalam penyusunan menu bagi pekerja adalah :
Kebutuhan kalori dan gizi tenaga kerja
Kebutuhan bahan dasar menu
Pendekatan penyusunan menu bagi pekerja sesuai dengan lingkungan kerja.

5.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi seseorang
Kebutuhan gizi setiap orang berbeda satu sama lainnya dan sangat tergantung
pada berbagai faktor yaitu :
a. Ukuran tubuh. Semakin besar ukuran tubuh seseorang maka semakin besar pula kebutuhan kalorinya, meskipun usia, jenis kelamin dan aktivitas yang dilakukan sama.
b. Usia. Anak-anak dan remaja membutuhkan relatif lebih banyak kalori dan zat gizi lainnya dibanding dengan orang dewasa atau tua, karena selain diperlukan untuk tenaga juga untuk pertumbuhan.
c. Jenis kelamin. Laki-laki umumnya membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan wanita. Hal ini karena secara fisiologis laki-laki mempunyai lebih banyak otot dan juga lebih aktif.
d. Kegiatan/aktivitas pekerjaan yang dilakukan. Pekerja berat akan membutuhkan kalori dan protein lebih besar dari pada mereka yang bekerja sedang dan ringan. Besarnya kebutuhan kalori tergantung banyaknya otot yang dipergunakan untuk bekerja serta lamanya penggunaan otot-otot tersebut. Disamping itu protein yang diperlukan juga lebih tinggi dari normal, karena harus mengganti atau membentuk jaringan baru yang lebih banyak dari pada keadaan biasa untuk mempertahankan agar tubuh dapat bekerja secara normal.
e. Kondisi tubuh tertentu. Pada orang yang baru sembuh dari sakit akan membutuhkan lebih banyak kalori dan zat gizi lainnya dari pada sebelum ia sakit. Pertambahan zat gizi tersebut diperlukan untuk rehabilitasi kembali sel-sel/jaringan tubuh yang rusak selama sakit. Demikian pula, bagi wanita hamil dan menyusui anaknya akan memerlukan kalori dan zat gizi lainnya yang lebih tinggi dari pada keadaan biasa.
f. Kondisi lingkungan. Pada musim hujan membutuhkan kalori lebih tinggi/ banyak dibandingkan pada musim panas. Demikian pula pada tempat-tempat yang dingin lebih tinggi dari pada tempat dengan suhu panas. Di mana tambahan kalori pada tempat-tempat dingin diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh.

5.4.3 Pengaruh Faktor Lingkungan Kerja
Faktor dalam lingkungan kerja menunjukkan pengaruh - pengaruh yang jelas terhadap keadaan gizi tenaga kerja. Beban kerja yang berlebihan dan lingkungan kerja panas dapat menyebabkan penurunan berat badan (Priatna, 1990). Sebaliknya motivasi psikologis yang kuat, kadang – kadang meningkatkan nafsu makan dan menjadi sebab bertambahnya berat badan dan gemuk.
a) Tekanan Panas. Untuk pekerjaan ditempat kerja bersuhu tinggi, harus diperhatikan secara khusus kebutuhan air dan garam sebagai pengganti cairan untuk penguapan. Dalam lingkungan kerja panas dan pekerjaan berat, diperlukan sekurang-kurangnya 2,8 liter air minum bagi tenaga kerja, sedangkan
untuk kerja ringan dianjurkan 1,9 liter. Kadar garam tidak boleh terlalu tinggi, melainkan sekitar 0,2 % (Grantham, 1992). Tidak dibenarkan minum minuman keras atau yang mengandung alkohol oleh pekerja di tempat kerja. Susu bukan cairan penghilang dahaga dan tenaga kerja terbatas kemampuan untuk meminumnya, yaitu sekitar 1 - 2 gelas saja. Minuman - minuman lain yang tidak mengandung alkohol (softdrink) dan bersifat penyegar badan baik untuk diberikan. Untuk bekerja di tempat dingin makanan dan minuman hangat sangat membantu.
b) Bahan kimia. Bahan - bahan kimia dapat menyebabkan keracunan kronis dengan penurunan berat badan sebagai salah satu gejalanya. Beberapa bahan kimia dapat mengganggu proses metabolism dalam tubuh dan mungkin juga dapat mengakibatkan berkurangnya selera makan. Pengaruh pengaruh lainnya mungkin berupa gangguan saluran pencernaan dengan akibat tidak berfungsinya sistem pencernaan.
c) Faktor psikologis. Stress sebagai akibat ketidakserasian emosi, hubungan manusia dalam pekerjaan yang kurang baik, rangsangan atau hambatan psikologis, sosial dll. akan menurunkan berat badan, terjadinya penyakit dan tidak produktifnya tenaga kerja.


5.4.4 Usaha perbaikan gizi kerja di perusahaan
Hasil dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan masih terdapat beberapa pengusaha beranggapan bahwa pemberian makan dan atau makanan tambahan berupa snack dan istirahat pendek akan meningkatkanKEBUTUHAN GIZI KERJA pengeluaran biaya dan merugikan perusahaan. Namun jika dikaji lebih jauh, sebenarnya banyak keuntungan yang diperoleh dengan pemberian makanan diperusahaan. Untuk itu, Suma’mur (1984) memberikan beberapa saran kepada
perusahaan untuk :
a) Menyediakan kantin diperusahaan, dengan tujuan meningkatkan dan memperbaiki gizi tenaga kerja dan tanpa disadari telah memberikan pengetahuan tentang gizi terhadap pekerja.
b) Pemberian makanan / snack secara cuma-cuma pada jam-jam tertentu, di mana hal ini akan memperlambat munculnya kelelahan, meningkatkan kecepatan dan ketelitian kerja dan menghindari waktu istirahat curian.
c) Pemberian makanan tambahan dan adanya kantin diperusahaan dapat mencegah terjadinya penyakit, sehingga kehilangan waktu kerja karena absensi sakit dapat ditekan.
d) Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan dan gizi secara teratur, sehingga kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya dapat dicapai dan dipertahankan.
e) Menerapkan hasil penelitian tentang gizi kerja yang telah dilakukan untuk meningkatkan status gizi tenaga kerja dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi tingginya pengetahuan dan penerapan gizi seimbang bagi tenaga kerja merupakan aspek yang mutlak harus dilakukan. Dengan gizi seimbang maka kesehatan tenaga kerja dapat dipertahankan dan tenaga kerja akan dapat bekerja dengan baik, tidak mudah lelah/capai dan mengurangi terjadinya tingkat kesalahan. Hal ini berarti dapat mengurangi pemborosan terhadap bahan dari perusahaan dan akhirnya akan dapat menambah keuntungan yang tinggi bagi perusahaan.

Sumber buku : Ergonomi (untuk keselamatan, kesehatan kerja, dan produktivitas)
Pengarang.    : Tarwaka, solichul HA. Bakri, Lilik sudiajeng

Kamis, 27 September 2018

Section 1
1. The Law Says ...
Undang-undang kesehatan dan keselamatan mempromosikan internalsistem tanggung jawab. Semua orang di tempat kerjamemiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan keamanan tempat kerja.
Pengusaha harus menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat.Supervisor bertanggung jawab untuk memastikan pekerjaan itu dilakukan dengan aman. Bekerja dengan aman adalah tanggung jawab pekerja. Karyawan harus mengikuti prosedur keselamatan yang ditetapkan oleh majikan.
Jika seorang karyawan percaya bahwa tugas itu berbahaya, dia memiliki hak untuk menolak melakukan tugas itu sampai selesai bisa dilakukan dengan aman. Karyawan harus melapor kepada dirinya atasannya niatnya untuk menolak pekerjaan berbahaya.
2. Elemen Keamanan di Tempat Kerja
1. Cara yang benar dalam melakukan pekerjaan Anda adalah cara yang aman. Ikuti instruksi. Jika Anda tidak tahu, tanyakan.
2. Ketahui potensi bahaya dalam pekerjaan Anda, dan cara-carabekerja dengan aman untuk mencegah bahaya seperti itu.
3. Ketahui aturan keamanan untuk pekerjaan tertentu dan dapat menjelaskan aturan ini kepada rekan kerja.
4. Ikuti prosedur darurat jika terjadi kebakaran, keadaan darurat medis dan lainnya.
5. Laporkan semua cedera, termasuk goresan ringan,luka, luka bakar, tergelincir dan jatuh. Kebutuhan majikan Anda informasi ini untuk mengambil tindakan korektifmencegah cedera di masa depan. Ikuti perpustakaan Anda prosedur untuk melaporkan kecelakaan dan cedera.
6. Ketahui lokasi peralatan darurat semacam itusebagai alat pemadam kebakaran dan memahami cara menggunakan peralatan ini.
7. Gunakan alat pelindung diri seperti yang dipersyaratkan oleh majikan Anda.
8. Pelajari prosedur keselamatan khusus untuk hal tertentu keadaan yang terkait dengan pekerjaan perpustakaan. Ini mungkin termasuk masalah ergonomis, dalam ruangan kualitas udara, stres psikososial dan masalah keamanan.
9. Ikuti aturan keamanan listrik saat menggunakan listrik peralatan, alat listrik portabel grounding dan bekerja di dekat sekering listrik dan kotak panel.
10. Lakukan pemeriksaan lingkaran reguler pada kendaraan sepertibookmobiles untuk memastikan kondisi operasi yang baik.
11. Laporkan praktik tidak aman dan kondisi tidak aman ke majikan Anda.
12. Kenakan pakaian yang sesuai dengan tugas Andamelakukan. Kenakan sepatu yang nyaman di tempat umumstasiun layanan yang membutuhkan reputasi yang signifikan atau membantu pengguna dalam menemukan materi dari rak perpustakaan.
13. Keamanan Off-the-Job sama pentingnya. Keamanan tidak berhenti ketika Anda meninggalkan tempat kerja Anda.
3. Tips Keamanan untuk Karyawan Perpustakaan Baru Ketika Anda memulai pekerjaan baru, tanyakan kepada atasan Anda /pengusaha terkait kesehatan dan keselamatan berikut.

Section II
2. Inspeksi Tempat Kerja
Tujuan:
Tujuan dari inspeksi atau wisata keselamatan adalah untuk
mengidentifikasi kondisi yang tidak aman, serta praktik yang tidak aman, dan merekomendasikan tindakan korektif. Pekerjaan undang-undang kesehatan dan keselamatan membutuhkan teratur inspeksi tempat kerja.
Tim Inspeksi
Tim inspeksi terdiri dari campuran personil seperti karyawan, pengawas dan manajer. Umumnya, undang-undang menetapkan prosedur untuk inspeksi tempat kerja harus dilakukan oleh komite kesehatan dan keselamatan. Peran  danTanggung Jawab Inspeksi dilakukan sesuai dengan jadwal yang disepakati oleh Kesehatan dan Keselamatan Komite (tim manajemen pekerja bersama itu membantu atasan dalam menciptakan dan memelihara brankas(tempat kerja). Tim inspeksi umumnya menggunakan daftar periksa sebagai panduan untuk melakukan inspeksi.
Laporan Inspeksi
Laporan inspeksi dikomunikasikan ke semua tingkatan organisasi. Posting laporan inspeksi padapapan buletin, meninjau mereka di kesehatan sendi dan
rapat komite keselamatan, dan mengirim salinan ke manajemen untuk ditinjau semuanya komunikasi yang baik metode.
3. Investigasi Kecelakaan
Tujuan
Tujuan dari penyelidikan kecelakaan adalah untuk menemukan akar penyebab kecelakaan dan TIDAK menyalahkan orang kecelakaan. Kecelakaan serta insiden (panggilan akrab, atau nyaris celaka) harus dilaporkan dan diselidiki.
Tim Investigasi
Tim investigasi kecelakaan umumnya terdiri dari
pengikut:
1. Manajer / supervisor.
2. Pekerja berpengetahuan luas dalam proses kerja.
3. Seorang ahli (jika ditunjuk).

4. Perwakilan komite kesehatan dan keselamatan (s).
5. Orang lain sesuai kebutuhan.
Peran dan Tanggung Jawab Anda harus melaporkan setiap kejadian kecelakaan atau Insiden ke manajer / supervisor Anda segera. Manajer / supervisor Anda bertanggung jawab untuk melakukan penyelidikan kecelakaan dan memberitahukan kesehatan dan komite keselamatan dan orang lain seperti yang dipersyaratkan oleh undang-undang dan prosedur organisasi Anda.
Melaporkan
Laporan investigasi kecelakaan umumnya termasuk
pengikut:
1 Nama dan pekerjaan karyawan.
2 Lokasi dan waktu kecelakaan dan cedera (jika ada).
3 Nama saksi (es).
4 Deskripsi tugas, termasuk peralatan
dan kondisi kerja.
5 Deskripsi tentang apa yang terjadi menyebabkan kecelakaan.
6 Nama orang yang menyelesaikan laporan.
7 Rekomendasi untuk tindakan korektif.
8 Nama dokter atau ahli bedah, jika ada.
6.  Pertolongan Pertama
Peraturan pertolongan pertama mengharuskan perusahaan menyediakan fasilitas pertolongan pertama, peralatan, dan personil terlatih di semua tempat kerja. Orang yang memegang sertifikat pertolongan pertama yang valid harus memastikan bahwa isi pertolongan pertama kotak secara teratur diperiksa dan dipelihara. Untuk informasi tentang alat pertolongan pertama dan pertolongan pertama pelatihan, silakan hubungi Ambulance St. John setempat Asosiasi, Canadian Red Cross Society atau lainnya organisasi lain yang disetujui.
Dalam kasus cedera atau timbulnya suatu penyakit:
1. Segera dapatkan pertolongan pertama.
2. Memberi tahu atasan / majikan Anda.
3. Lengkap dan segera kembalikan semua formulir yang diperlukan
untuk otoritas kompensasi pekerja di Anda yurisdiksi.
4. Pengawas Anda harus memutuskan kebutuhan akan suatu
investigasi kecelakaan.



Sumber : buku health and safety guide for libraries

Jumat, 14 September 2018

Pelestarian bahan pustaka

NAMA : RIA ERLINDA
KELAS :17 Pus B
NIM : 1730403067
MATA KULIAH : Pelestarian Bahan Pustaka
LINK :

1. PENDAHULUAN
Bidang Pelestarian Bahan Pustaka adalah bidang yang masih baru dalam dunia perpustakaan. Kesadaran akan pentingnya pelestarian ini baru dimulai sejak tahun 1966, yaitu pada saat banjir di Florence, italia yang merusak koleksi perpustakaan nasional italia serta benda-benda seni yang lain. Kejadian ini mengetuk pintu hati para pustakawan tentang perlunya mempelajari bidang pelestarian bahan pustaka secara bersungguh-sungguh.
Lembaga yang telah lama mengupayakan “Pelestarian” ini adalah museum, arsip, dan kolektor seni. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang tersebut ialah:
1. The Internasional Institut for conservation of Historic and Artistic Work (HC),  yang didirikan pada tahun 1950
2. The American Institute for conservation of Historic and Artistic Work (AIC) didirikan pada tahun 1960.
Kedua lembaga tersebut mengupayakan benda-benda bersejarah, serta benda-benda seni dapat di lestarikan dengan baik, tetapi waktu itu menyinggung tentang pelestarian koleksi di perpustakaan. Di indonesia, pusat dokumentasi dan informasi ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI), bersama dengan perpustakaan nasional, arsip nasional, direktorat pemuseuman Depdikbud. Memprakasai program pelestarian bahan pustaka dan arsip yang mendapat bantuan dana dari ford foundation.
A. Beberapa Istilah terkait pelestarian menurut IFLA
Pelestarian (preservation)
IFLA (Internasional Federation of Library association-federasi internasional dari Asosiasi-asosiasi perpustakaan) mendefinisikan preservasi sebagai aspek-aspek yang mencakup usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenangan, metode, teknik, serta penyimpanan nya. Mencakup unsur-unsur pengelolaan,keuangan, cara menyimpan tenaga teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka.
Pengawetan/konservasi(conservation)
Kebijaksaaan dan cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi (IFLA)
Perbaikan/Restorasi (restoration)
Pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki BP dan arsip yang rusak.


2. Maksud dan Tujuan
Maksud pelestarian adalah mengusahakan agar Bahan Pustaka tidak cepat mengalami kerusakan, agar awet sehingga bisa di manfaatkan lebih lama. Koleksi atau bahan yang dirawat dimaksudkan untuk menimbulkan daya tarik pemustaka dalam memanfaatkan bahan pustaka memanfaatkan bahan pustaka. Tujuan pelestarian secara umum adalah melestarikan hasil budaya cipta manusia, baik yang berupa informasi maupun fisik dalam pustaka tersebut.
Sedangkan tujuan pelestarian secara khusus adalah :
Menyelamatkan nilai informasi dokumen
Menyelamatkan fisik dokumen
Mengatasi kendala kekurangan ruang
Mempercepat perolehan informasi
(Dokumen yang tersimpan dalam bentuk soft copy (CD, DVD, Dst) sangat mudah untuk diakses baik dari jarak dekat maupun jauh, sebagai pemakaian dokumen/BP menjadi optimal)
Kelestarian/lestarinya tergantung beberapa faktor, antara lain :
Mutu bahan dasar bahan pustaka
Lingkungan penyimpanan
Faktor-faktor lain: hewan, insekta, jamur, manusia
Bencana Alam: banjir, kebakaran, dan peperangan


3. Fungsi
1. Fungsi melindungi. Bahan pustaka dilindungi dari serangga, manusia, jamur, panas matahari, air, dsb. Dengan pelestarian yang baik serangga dan binatang kecil tidak akan dapat menyentuh dokumen, manusia tidak akan salah dalam menangani dan memakai bahan pustaka, jamur tidak akan tumbuh, dan sinar matahari serta kelembaban udara di perpustakaan mudah di kontrol.
2. Fungsi pengawetan. Dengan perawatan yang baik, bahan pustaka menjadi lebih awet, bisa lebih lama dipakai dan diharapkan lebih banyak pemustaka yang dapat memanfaatkan koleksi tsb.
3. Fungsi kesehatan. Dengan pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi lebih bersih, bebas dari debu, jamur, binatang perusak, sumber dan sarang berbagai penyakit, sehingga pemustaka maupun pustakawan akan tetap sehat, pemustaka lebih bersemangat dalam memanfaatkan bahan pustaka.
4. Fungsi pendidikan. Pemustaka dan pustakawan dapat belajar bagaimana memanfaatkan dan merawat dokumen, misalnya dengan cara tidak membawa makanan dan minuman ke ruang perpustakaan, tidak mengotori ruang bahan pustaka, tidak melipat bahan pustaka untuk menandai batas bacaan, member tanda dengan warna (spidol. Stabilo) pada kaliamat yang ada di dalam BP , dan sebagainya
5. Fungsi kesabaran. Merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua sehingga harus sabar. Bagaimana menambal buku yang berlubang, membersihkan kotoran binatang kecil seperti kotoran kutu buku yang berupa noktah, dan menghilangkan noda-noda lainnya yang butuh kesabaran.
6. Fungsi sosial. Pelestarian bahan pustaka tidak bisa dilakukan sendiri.pustakawan tetap harus melibatkan pemustaka untuk ikut merawat bahan pustaka. Sikap pengorbanan perlu di tumbuhkan dalam pada setiap orang demi kepentingan dan keawetan bahan pustaka.
7. Fungsi ekonomi. Dengan pelestarian pustaka yang baik bahan pustaka menjadi lebih awet sehingga keuangan perpustakaan menjadi lebih hemat.
8. Fungsi keindahan. Dengan pelestarian yang baik, penataan bahan pustaka yang rapi, maka perpustakaan akan tampak lebih indah sehingga akan menambah daya tarik pemustaka dan mereka lebih betah berada di perpustakaan.


Senin, 16 April 2018

Prinsip-prinsip Kepustakawanan
Ada 16 prinsip-prinsip kepustakawanan, apa sajakah itu? mari kita simak penjelasannya dibawah ini :
1. Perpustakaan diciptakan oleh masyarakat
Perpustakaan hadir karena dari hadirnya manusia, dan manusia/masyarakat yang awalnya membutuhkan informasi lalu mereka berkumpul dan mengumpulkan sumber-sumber informasi.

2. Perpustakaan dipelihara oleh masyarakat
Setelah diciptakan, perpustakaan tersebut dipelihara oleh masyarakat itu sendiri dengan cara dipergunakan dengan secara maksimal dan bermaanfaat bagi masyarakat banyak. Serta bagi yang menciptakaan (masyarakat) maka perannya dalam melestarikan karyanya tentu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya.

3. Perpustakaan dimaksudkan untuk menyimpan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan
Perpustakaan informasi
Awalnya ilmu disimpan oleh raja di kuil-kuil
jika hanya disimpan saja, ilmu pengetahuan tersebut akan mandek dan cenderung tidak tidak berkembang.
Oleh karena itu, informasi yang tersimpan tersebut perlu disebarluaskan guna perkembangan ilmu pengetahuan.

4. Perpustakaan terbuka untuk umum
Perpustakaan terbuka bagi semua orang anggota masyarakat dengan tidak memandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, warna kulit, agama, maupun status sosial.
Perpustakaan yang terbuka untuk umum misalnya: pusda,

5. Perpustakaan merupakan pusat kekuatan
dikatakan sebagai pusat kekuatan karena ilmu perpustakaan adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan perpustakaan, didalam perpustakaan menyimpan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dalam segala bidang. Kerena itulah perpustakaaan di sebut dengan pusat kekuatan.

6. Perpustakaan harus berkembang
Dari koleksi yang terbatas lalu berkembang menjadi koleksi yang banyak
Namun, perpustakaan harus berkembang, meskipin laju perkembangan setiap perpustakaan berbeda-bed. Akan tetapi pastilah akan berkembang.
Dari zaman manual menjadi zaman era teknologi seperti sekarang dan di tahun-tahun yang akan datang
Tentunya perkembangan perpustakaan nantinya bakal sesuai dengan zaman nya.

7. Perpustakaan nasional harus berisi literatur nasional dari Negara yang bersangkutan dinegaranya
Sudah menjadi kewajiban sebuah perpustakaan nasional (pusat perpustakaan disuatu Negara) untuk menyimpan dokumen atau data karya dari para masyarakatnya yang telah menciptakan mahakarya baik dalam bentuk cetak maupun non cetak.

8. Setiap buku pasti ada manfaatnya
Apapun jenis bukunya, meskipun buku itu jarang sekali peminatnya. Pastilah bakal ada yang pembacanya karena setiap manusia pastilah mempunyai selera dan minat bacanya tersendiri, dan setiap buku juga ada hikmah dan manfaatnya yang bisa kita ambil dari buku tersebut.

9. Seorang pustakawaan haruslah orang yang berpendidikan
Perpustakaan tentulah harus diisi oleh tenaga ahli ilmu perpustakaan yang baik dan ahli di bidangnya, karena itu akan sangat berpengaruh dalam sisitem penyusunan buku dan penerapan sistem didalam perpustakaan tersebut. Tentulah akan sangat berbeda mereka yang memang lulusan dari jurusan ilmu perpustakaan dengan yang hanya otodidak tanpa mempelajarinya secara detail. Dan bagaimana nasib para sarjana ilmu perpustakaan dalam mencari pekerjaan jika lahan/bidang mereka telah direbut oleh orang yang bukan ahli dibidang ilmu perpustakaan.

10. Seorang pustakawan adalah seorang pendidik
Pustakawan harus menjadikan perpustakaan sebagai media pembelajaran dan sarana belajar bagi pengguna.
Menggembangkan perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non formal bagi masyarakat.
Seorang tenaga pustakawan juga mesti menguasai setidaknya dasar-dasar tentang tenaga pendidik sehingga ia dapat sedikit banyak nya belajar mendidik di dampingi dengan buku-buku diperpustakaan.

11. Untuk menjadi pustakawaan diperlukan penelitian dan pendidikan keahlian
Dulu lulusan sekolah menengah tulis, lalu calon pustakawan harus magang dan pendapat pelatihan.
Abad 20 an dewey, yang merasa perlu adanya pendidikan formal bagi pustakawanan dan pada akhirnya muncul ilmu perpustakaan
Ilmu perpustakaan adalah ilmu yang mempelejari tentang segala macam yang berkaitan dengan perpustakaan, buku dan koleksi cetak/non cetak.
12. Pustakawaan bertugas menambah koleksi
Seperti demotrios (kepustakawanan mesir kuno) berusaha menambah koleksi. Dalam hal ini pustakawan lah yang sangat penting menjasa untuk hal menambah koleksi.

13. Perpustaakaan harus dikelola/disusun menurut aturan baku
Koleksi perpustakaan yang melimpah tentunya membutuhkan aturan dalam penyusunan dengan baik.
Sehingga dalam menyusunan tidak terjadi kekeliruan
Dan buku perpustakaan dapat tersusun dengan baik dan benar sesuai dengan aturan tetap.
14. Di kerenakan perpustakaan menyimpan berbagai informasi
Pada prinsipnya memang telah jelas bahwa perpustakaan menyimpan dan mengelola informasi menjadi sedemikian rupa sehingga nantinya dapat ditemukan kembali dengan mudahdan cepat. Dan dapat menggunakan waktu se efisien mungkin.

15. Perpustakaan hurus memiliki katalog subjek
Harus memiliki katalog subjek sehingga dapat memudahkan para pemustaka dalam mencari koleksi yang ada dalam perpustakaan. karena katalog subjek sering di gunakan pada saat kita ingin mengetahui berbagai buku yang membahas subjek yang sama, biasanya sering di pergunakan saat mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan membuat penelitian, makalah dsb yang membahas subjek tertentu. Dengan berbagai macam pengarang dan judul tetapi pokok pembahasan nya yang sama.

16. Perpustakaan sebagai pusat/sumber informasi
Perpustakaan sebagai gudangnya ilmu
Gudangnya pengetahuan
Tentunya segala macam informasi terdapat dalam perpustakaan.
Informasi tentang Negara yang ada diluar negeri pun ada di perpustakaan
Karena memiliki banyak informasi tersebut menjadikan perpustakaan sebagai tempat pusat informasi

Selasa, 10 April 2018

Alasannya :
1. Perpustakaan umum, biasa kita jumpai dan sudah pasti dapat di kunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat dari mulai anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Dengan berbagai macam beground semua bisa menikmati fasilitas di perpustakaan ini, selain itu bukankah bagus jika koleksi perpustakaan dpat di nikmati oleh semua orang. Yang termasuk dalam perpustakaan umum ialah perpustakaan pemerinta dan non pemerintah (perpustakaan nasional, perpustakaan kota, perpustakaan kabupaten, dan perpustakaan desa. Dan yang termasuk non pemerintah (RBM dan TBM).

2. Perpustakaan khusus, yang termasuk di dalamnya adalah perpustakaan akademik, perpustakaan lembaga, perpustakaan keagamaan, dan perpustakaan pribadi.
Yang ikut golongan perpustakaan akademik adalah perpustakaan pra sekolah, perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi (PT). yang tentunya hanya bisa dinikmati atau dipakai hanya untuk yang sekolah disana.
Golongan perpustakaan lembaga adalah bank, perusahaan, pesantren, dan penelitian. Yang pastinya hanya bisa di gunakan untuk pra karyawan diinstansi tersebut dan para santri (pesantren)
Keagamaan adalah perpustakaan msjid, perpustakaan gereja, dan perpustakaan pura. Pembacanya sudah pasti jamaah tempat ibadah tersebut.
Perpustakaan pribadi ialah perpustakaan yang dimiliki oleh seseorang yang hobby membaca lalu mengkoleksinya, lalu dengan hobby nya seseorang tersebut ia membuat perpustakaan pribadinya dan bermanfaat bagi orang lain.

Selasa, 03 April 2018

Ilmuan perpustakaan di dunia

Tokoh Ilmu Perpustakaan dan Teori atau karyanya:


       Informasi di berbagai bidang dan sektor berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena keberadaan globalisasi di segala bidang, namun yang sangat terlihat itu di bidang teknologi dan informasi. Salah satu penyedia informasi adalah perpustakaan. Setiap perpustakaan di selenggarakan dengan maksu dan tujuan tertentu.
Karna kita membahas tentang kemajuan.. yang dirasaan perpustakaan, tentunya tidak lengkap kalau kita tidak membahas tentang tokoh yang mencetuskan atau yang sangat memiliki peran penting dalam kemajuan dibidang ilmu ini (perpustakaan) baik yang didalam negeri kita sendiri maupun diluar negeri.

1. RUANG LINGKUP INDONESIA
a. Blasius Sudarsono
     beliau dilahirkan dikota solo jawa tengah, pada tanggal 2 februari 1948 (70 tahun). Dari kecil sampai di usianya menginjak remaja beliau dibesarkan dan didik dilingkungan yang baik dan terdidik. Karena  ternyata ibu dan ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar. sejak kecil bapak ini ternyata senang sekali tentang hal-hal yang berbau elektronik, jadi dia sangat suka sekali mengotak-atik barang elektronik.
     Sebenarnya bapak ini ingin belajar elektronik arus lemah, akan tetapi orang tuanya menginginkan menjadi arsitek, jadi mendaftarlah ia ke ITB jurusan elektro dan arsitek, namun semua itu belum selesai. Bapak blsius ini juga sempat beberapa kali beganti universitas. Dan akhirnya kuliah di jurusan fisika murni di UGM, sampai tingkat sarjana muda. Dan ternyata lalu ia bekerja di perpustakaan karna terlalu lam menunggu dibukannya program sarjana penuh. Dan salah satu alasan mengapa penulis memilih bapak ini sebagai tokoh pustawan indonesia padahal masih banyak tokoh lainnya yang bisa diangkat, karna dia adalah seorang penulis yang sangat produktif, karya-karya nya sudah sangat banyak. Bahkan banyak juga pemikiran-pemikiran beliau yang belum sempat ditulis, salah satu contohnya tentang falsafah pustakawan asing dan pustakawan indonesia yang mungkin berbeda. Yang mengherankannya adalah tulisan blasius sudarsono ini disampaikan tak hanya memakai bahasa formal, namun juga memakai bahasa yang unik.
Selain itu pemikiran blasius mengenai literasi informasi. Asal Istilah literasi informasi yaitu information literate menjadi keberinformasi yang berarti kesadaran akan kebutuhan, mampu mencari tau apa yang dibutuhkan lalu menemukan dan berhasil, dan begitulah siklus kehidupan

Karya-karya beliau :
1. Pustawakan, cinta dan teknologi. Jakarta: ikatan sarjana ilmu perpustakaan dan informasi indonesia,2009.
2. Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang.
3. Pendekatan dalam pencarian dan pendokumentasian inovasi masyarakat.
4. Pokok pemikiran tentang naskah kuno
5. Mengapa kita berhimpun?
6. Strategi pengembangan JFP                          7. Menuju penyempurnakan jabatan fungsional,  pustakawan                                                                                                                 
2. RUANG LINGKUP INTERNASIONAL
a. Melville lois Kossuth Dewey 1851-1931)
     Beliau lahir di Adams Center, New York tahun 1851. Anak bungsu dari pasangan joel dan eliza greene dewey. Saat masa dia mendi mahasiswa (masih kuliah) ternyata ia telah mendirikan biro perpustakaan, yang menjual filling-cabinets dan kartu indeks berkualitas tinggi. Dan juga beliau mendirikan dimensi standar untuk karu katalog. Dari 1883-1888 beliau menjabat sebagai kepala pustakawan Columbia University. Dan selama isa menjabat sebagai direktur perpustakaan Negara New York (1888- 1906) beliau mendirikan perpustakaan berjalan. lalu di tahun 1888-1900 beliau menjabat lagi sebagai sekretaris dan pejabat eksekutif dari universitas Negara bagian new York, Sebagai pelopor kepustakawan di amerika.

Karya-karyanya adalah :
1. Dewey decimal classification (DDC) yang banyak di pergunakan sebagai kelas klasifikasi di banyak perpustakaan/ilmu perpustakaan.
2. Ide dan gagasannya untuk menambah tugas dan fungsi perpustakaan negar sebagai Pembina layanan perpustakaan di sekolah maupun umum.
3. Salah satu pelopor pendiri ALA (American Library Asosiation) dan memiliki beberapa biro perpustakaan dan perusahaan swasta sebagai upaya fundrisingperpustakaan.
4. Dan dia mendapat julukan untuk karya nya sebagai Father of Modern Librarianship.

Merekalah salah satu tokoh yg pencetuskan sekaligus pengembang DDC (perpustakaan) pada masa itu

Book Report kewarganegaraan

 BOOK REPORT PRADIGMA BARU PENDIDIKAN PANCASILA MATA KULIAH KEWARGANEGARAAN OLEH RIA ERLINDA (1730403067) DOSEN PENGAMPU: NURMALIA...